Ingin Curhat, Keluarga Terdakwa Jalan Kaki ke Rumah Ibu Jokowi
Peristiwa

Ingin Curhat, Keluarga Terdakwa Jalan Kaki ke Rumah Ibu Jokowi

Sukoharjo,(sukoharjo.sorot.co)--Aksi menuntut keadilan dari keluarga terdakwa pengrusakan PT Rayon Utama Makmur (RUM) terus berlanjut. Seolah tak mengenal kata lelah, mereka terus berjuang hingga titik darah penghabisan demi mendapat hasil atas tuntutan yang dilakukan selama ini.

Seperti yang dilakukan mereka pada Senin (29/07/2018). Belasan orang yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) berjalan kaki menuju kediaman rumah Ibunda Joko Widodo di Sumber Solo, untuk mencurahkan isi hati sekaligus bersilaturahmi untuk keadilan.

Meski panas cukup menyengat kala itu, namun tak menyurutkan niat mereka untuk melangkah. Berangkat dari salah satu rumah warga di Jalan Celep Nguter, mereka berjalan menggebu-gebu tanpa peduli seberapa banyak peluh yang terus menetes. Tak pandang perempuan atau laki-laki, bagi mereka suara keadilan adalah yang utama.

"Saya hanya ingin mencurahkan isi hati saya, dan bersilaturahmi untuk meminta keadilan," ucap Feni, istri dari Sukemi salah satu terduga pengrusakan fasilitas PT RUM.

Sembari membentangkan spanduk bertuliskan silaturahmi untuk keadilan dan bendera merah putih yang dikibarkan, mereka berjalan melawan terik. Aksi ini dilakukan pengawalan ketat dari pihak kepolisian. 

Seperti yang telah diketahui, pengrusakan PT RUM yang berada di Desa Plesan, Kecamatan Nguter merupakan buntut dari aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh beberapa warga. Alhasil, tujuh warga ditangkap oleh polisi Sukoharjo.

Penangkapan tersebut dinilai tidak adil. Pasalnya, mereka adalah orang-orang yang telah berjuang menyuarakan tuntutan agar bau yang ditimbulkan PT RUM dihilangkan. Hingga sampai saat ini, duka yang amat panjang dari pihak keluarga masih bersisa. Pasalnya, upaya untuk meminta keadilan agar ketujuh terdakwa dibebaskan belum menemukan titik terang.

Adapun ketujuh warga tersebut adalah adalah Bambang Wahyudi, Danang, Sukemi, Muhammad Hisbun Payu, Sutarno, Brilian dan Kelvin. Mereka dijatuhi hukuman mendekam di Lapas Kedungpane Semarang lantaran pada bulan Februari melakukan aksi hingga berujung pada pengrusakan.