Komnas HAM Kumpulkan Data Terkait Penangkapan Aktivis
Peristiwa

Komnas HAM Kumpulkan Data Terkait Penangkapan Aktivis

Nguter,(sukoharjo.sorot.co)--Menindaklanjuti laporan warga tentang tertangkapnya ketujuh aktivis yang diduga merusak PT. Rayon Utama Makmur, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melakukan kunjungan kerja ke Desa Tawang Krajan, Kecamatan Nguter, Senin (16/04/2018) sore.

Fella Oktarini, tim pemantau dan penyelidikan Komnas HAM menjelaskan, menindaklanjuti aduan warga, ia dan ketiga rekannya turun langsung untuk memastikan bahwa laporan tersebut benar adanya. 

"Kami datang kesini untuk menindak lanjuti laporan warga, kebetulan bulan lalu warga melapor ke kantor kami, sekarang kami turun kesini untuk memastikan berkomunikasi langsung dengan warga untuk meminta keterangan dari berbagai pihak, salah satunya kepada warga," ucap Fella Oktarini. 

Pertemuan dilakukan di salah satu rumah milik warga yang bernama Wagimun di Dusun Tawang Krajan RT 02/08 Desa Gupit, Kecamatan Nguter. Dalam acara tersebut warga diberi kesempatan untuk mengeluarkan keluh kesahnya atas dampak yang ditimbulkan oleh PT RUM. 

"Kita baru tahap pengumpulan data dan keterangan. Mengenai data yang imbang, kita tidak akan ke PT RUM tetapi lebih ke Pemkab dan Polres," imbuhnya. 

Salah satu keluarga dari aktivis ikut menyampaikan pendapat yakni Feni Ike Anjarwati, istri dari Suk yang saat ini berada di Polda Jawa Tengah. Ia menuturkan, bahwa penjemputan suaminya saat itu berlangsung pada pukul 02.00 WIB disaat ketiga anaknya tertidur pulas. Penjemputan tersebut langsung didatangkan dari Polda Jawa Tengah dan Polres Sukoharjo. Namun anehnya saat penangkapan, kertas yang dibawa pihak kepolisian masih berupa kertas kosong tanpa ada keterangan nama terkait, dan pengisian nama-nama itu berlangsung setelah tiba di Polda Jawa Tengah. Disaat itu juga, Feni juga menceritakan nasib yang saat ini sedang dialami suami tercintanya. 

"Saya hanya meminta keadilan, setiap hari suami saya harus mengeluarkan uang Rp 10 ribu untuk angin, karena itu ruangannya di dalam, misal mau keluar ke kamar mandi, tiap hari harus keluar dan itu biayanya Rp 10 ribu, kalau tidak punya uang tidak keluar," ungkap Feni Ike Anjarwati.