Kreatif, Bengkel Mobil di Grogol Ciptakan Pesawat Terbang Mini
Peristiwa

Kreatif, Bengkel Mobil di Grogol Ciptakan Pesawat Terbang Mini

Grogol,(sukoharjo.sorot.co)--Ide kreatif terkadang muncul dari sebuah keterbatasan seorang warga Dusun Tempel, Desa Pondok, Kecamatan Grogol bernama Texswan Purbobusono. Seorang montir berusia 65 tahun ini mempu merakit sebuah pesawat terbang yang diidam-idamkan sejak masa kecil dulu. Meski belum sempurna, pembuatan pesawat terbang itu sudah mencapai 65 persen lebih.

Di garasi rumahnya, badan pesawat yang memiliki panjang 4,5 meter dengan berat hampir 80 kilogram itu, kini sedang menjalani tes mesin pendorong. Terdapat baling-baling udara di ujung belakang bodi pesawat terbang yang berfungsi mengonversi putaran menjadi tenaga pendorong untuk pesawat.

Kepada sorot.co, Leo panggilan Akrab Texswan Probobusono, menjelaskan, pembuatan pesawat terbang rakitan itu berbekal keterampilan dan keahlian yang ia miliki di bidang otomotif. Ia menghitung dan mempelajari sendiri cara membuat pesawat dengan otodidak dan tidak berguru dengan siapapun.

Ada empat bagian pesawat terbang yakni badan pesawat (fuselage), sayap (wing), belakang pesawat (empennage) serta roda pendarat. Hanya saja, sayap pesawat yang belum saya buat lantaran karena terkendala dana,” ujarnya, saat ditemui di rumahnya, Minggu (11/2/2018).

 

Ditambahkan Leo, semua bagian pesawat ia rakit menggunakan bahan alumunium dan barang-barang bekas lainnya. Selain itu, terdapat tiga roda yang ia pasang yang saat ini masih berfungsi untuk bergerak di jalanan saat melakukan uji mesin. Beberapa spare part yang diganakan merupakan suku cadang sepeda motor yang ia beli di Pasar Silir Solo. Sejauh ini dirinya sudah menghabiskan biaya sekitar Rp 22 juta dalam pembuatan pesawat tersebut.

Menurutnya, mesin pendorong pesawat terbang buatannya telah diuji coba di jalan raya. Leo mengendarai badan pesawat mengelilingi kawasan Solo Baru, Grogol. Bahkan ia sempat menabrak tiang listrik saat keluar dari area desanya menuju tempat yang agak lapang. Proses pembuatan pesawat hanya dilakukan Leo, saat waktu luang di tengah kesibukannya menjadi montir. Karena, kesibukan Leo yang utama adalah memperbaiki mobil atau barang-barang elektronik seperti televisi, komputer, dan kulkas.

Jika sudah ada sayap, saya akan melakukan uji coba terbang di landasan pacu di Pantai Depok, Bantul, DIY. Saya yakin bisa terbang karena sudah diperhitungkan secara teknis. Bahan bakarnya premium bukan avtur yang digunakan pesawat terbang. Untuk jadi pesawat utuh, masih butuh uang sekitar Rp 1 miliar,” tutupnya.