Alat Pelindung Diri Wajib Dalam Pemulasaran Jenazah Penderita HIV AIDS
Sosial

Alat Pelindung Diri Wajib Dalam Pemulasaran Jenazah Penderita HIV AIDS

Bendosari,(sukoharjo.sorot.co)--Sebanyak 60 peserta dari Tim Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Sukoharjo mengikuti pelatihan pemulasaran jenazah Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) di RSUD Ir. Soekarno, Kamis (11/1/2018). Minimnya pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS membuat sebagian masyarakat tidak berani melakukan proses pemulasaran jenazah ODHA karena khawatir tertular penyakit tersebut.

Ketua Tim Penanggulangan HIV dan Aids RSUD Sukoharjo, Agus Prihatmo, menuturkan proses pemulasaran jenazah ODHA memang berbeda dengan jenzah pada umumnya. Selain harus menggunakan beberapa peralatan untuk pelindung diri, cara membersihkan dan mengemasinya pun membutuhkan cara khusus.

Sebenarnya jenazah ODHA jika didiamkan selama empat jam itu virusnya sudah mati. Memang ada potensi penularan, tapi itu dari penyakit infeksiusnya bukan HIV/AIDS-nya,” papar dia.

Prinsip dari penanganan jenazah ODHA ini lebih menitikberatkan pada terpenuhinya alat pelindung diri tenaga pemulasaran jenazah. Alat pelindung diri (APD) yang dibutuhkan dalam pemulasaraan jenazah ODHA ini sangat mudah didapatkan di pasaran dan terjangkau dari segi harga. APD tersebut meliputi sarung tangan (handscoone), celemek plastik (aprone), penutup kepala (hairnet), penutup hidung (masker), kacamata dan sepatu bot. 

Penanganan jenazah ODHA sama dengan jenazah penderita infeksius lainnya, hanya lebih menitikberatkan pada alat pelindung diri,” ungkap Taufiq.

Saat melakukan pemulasaran, yang terpenting adalah memberikan klorin 0,5 persen di seluruh tubuh jenazah. Kemudian jenazah didiamkan selama 10 - 15 menit, dan kemudian baru dibersihkan seperti umumnya.

Yang membedakan terakhir nanti adalah setelah dimandikan dan dikeringkan, jenazah kemudian dibungkus dengan plastik kemudian baru dibungkus kain kafan,” pungkasnya.